Mau Akrobat Lidah Seperti Apapun, Itu Tetap Namanya Dinasti Politik, Akui Saja - SWARAKYAT MEDIA

Mau Akrobat Lidah Seperti Apapun, Itu Tetap Namanya Dinasti Politik, Akui Saja

Mau Akrobat Lidah Seperti Apapun, Itu Tetap Namanya Dinasti Politik, Akui Saja

SWARAKYAT.COM
- Awalnya bilang, kalau keluarganya tidak akan libatkan diri ke politik.

 

"Mereka semua punya usaha, gak usah ke politik."

 

Sang anak pun setali tiga uang dengan pernyataan bapaknya. Kalau ia terjun ke politik, takutnya ada politik dinasti.

 

"Kasihan rakyat kalau politik dinasti dilakukan."

 

Seiring berjalan, rupanya politik dipandang lain lagi. Alih2 menolak, malah sang anak mencalonkan diri. Mustahil ini anak inisiatif sendiri. Pastinya ada masukan dan saran padanya untuk ikut calonkan diri. Aji mumpung..

 

"Mumpung bapakmu masih menjabat, gak ada salahnya dirimu ikut mencalonkan diri."

 

Akhirnya sang anak pun mencoba ikut. Dari gestur tubuhnya, ini anak sebenarnya masih dilema, namun dorongan pada dirinya sungguh luar biasa kuatnya. Sejatinya jika mau memilih, dirinya lebih suka menjalankan usahanya daripada terjun ke politik.

 

Sangat kental aji mumpungnya. Tokoh2 politik lahir dari kegiatan dirinya yang mencoba terjun dan bicara politik, sebelum mencoba mencalonkan diri. Tapi ini anak, muncul ujug2 disaat pencalonan saja. Sebelumnya tidak pernah dia berbicara politik malah terkesan menghindar.

 

Modal yang dia punya, ya nama bapaknya.

 

Sang bapak gak mau dikatakan mengadopsi politik dinasti. Secara terpisah sang bapak berkata..

 

"Ini kan kompetisi, bisa menang dan bisa kalah. Keputusan ada pada rakyat. Jadi gak betul kalau ada politik dinasti.."

 

Tapi berita yang beredar, malah mengesankan ada campur tangan bapak dalam penentuan pencalonan dirinya. Sebelumnya ada perseteruan mengenai siapa calon yang diusung PDIP.

 

Catatan ya, syarat partai usung calon harus memenuhi kuota 20% jumlah kursi di DPRD. Jumlah kursi di DPRD kota itu hanya 45 kursi. 3/4 nya dikuasai oleh partai nomor satu yang jadi pengusung sang anak. Sisa kurssi 1/4 dibagi masing2 partai.

 

Dengan syarat 20% jumlah kursi, artinya partai pengusung harus berkuatan minimal 9 kursi di DPRD. Jika dipetakan, partai sang pengusung anak bisa melenggang mulus tanpa hambatan. Karena perolehan kursi mereka over limit. Sisanya hanya ada 15 kursi. Dengan sisa kursi ini, kemungkinan paling besar pilkada di kota itu hanya akan mempertemukan 2 calon untuk bertanding.

 

Partai pengusung memiliki 2 calon sebelumnya, perdebatan siapa calon yang dipilih ternyata melibatkan tangan sang bapak. Melalui pemberitaan di media, salah satu calon berkata..

 

"Saya diundang ke istana bapak, dan keputusan yang dipilih adalah anaknya sebagai calon. Jadi saya harus menerima keputusan si bapak.."

 

Lalu apa kompensasi si calon yang harus tersingkir?

 

"Saya ditawari jabatan oleh si bapak, apabila menerima hasil keputusannya.."

 

Luar biasa bukan? Bagaimana keikutsertaan si bapak dalam meng'Gol kan sang anak menjadi calon.

 

Apakah ini bukan Politik Dinasti?

 

Jika melihat sekilas, ini bukan politik dinasti. Karena sesuai kata bapak, ini kan kompetisi. Namun dalam memutuskan si anak yang dicalonkan, itu adalah bentuk politik dinasti juga.

 

Pilkada kota itu nantinya akan ada 2 calon saja. Bahkan kemungkinan terbesar bisa jadi hanya 1 calon yang melawan kaleng kosong. Karena dengan melihat historis warga kota itu, maka kesempatan menang si anak cukup besar. Rugi apabila ada partai yang coba mengusung pihak lain.

 

Sejatinya, pencalonan partai itu tujuannya adalah menang. Dengan kefanatikan warga kota itu pada sosok bapaknya, mustahil rasanya untuk mencoba menang dengan menyingkirkan si anak. Memang Tuhan yang memutuskan, namun harus ada kalkulasi dalam menghitung peluang.

 

Jika saya punya partai, pastinya saya akan angguk kepala dengan pencalonan si anak. Melawan si anak dengan melihat situasi masyarakatnya, ya bunuh diri. Menang enggak, bokek yang pasti.

 

Apakah ini salah?

 

Gak salah jika dasarnya adalah aturan. Jadi salah apabila cara2 meloloskan si anak malah dibanggakan.

 

Bagaimanapun, yang paling berhak memutuskan siapa yang jadi pemimpin adalah warga kota itu sendiri. sebagai pihak diluar saya cuma bisa mengangguk dalam senyuman.

 

Si anak akan melenggang mulus tanpa perlawanan. Karena warga kota itu begitu mencintai sang tokoh dan keluarganya.

 

Sejatinya, negara ini sudah salah dalam aturannya.

 

(By Iwan Balaoe)

loading...