Anak Buah AHY: KAMI Bikin Kata “Kami” yang Penuh Perjuangan Kemerdekaan Kini Jadi Rusak - SWARAKYAT MEDIA

Anak Buah AHY: KAMI Bikin Kata “Kami” yang Penuh Perjuangan Kemerdekaan Kini Jadi Rusak

Anak Buah AHY: KAMI Bikin Kata “Kami” yang Penuh Perjuangan Kemerdekaan Kini Jadi Rusak


SWARAKYAT.COM - Deklarasi Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) telah merusak diksi “Kami” yang memiliki nilai luhur perjuangan bangsa.

 

Demikian disampaikan politisi Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean dalam artikel berjudul “KAMI, Kata Perjuangan yang Kini Tercemar”.

 

Dalam artikel tersebut, di massa perjuangan dan perang kemerdekaan, kata “Kami” penuh dengan semangat persatuan.

 

Bahkan, kata itu menjadi salah satu penanda identitas kebangsaan dalam melawan penjajah.

 

Kata “Kami” bahkan menjadi pemisah antara putra-putri ibu pertiwi pejuang kemerdekaan dengan kaum penjajah.

 

“Dan kata kami adalah identitas pemersatu bagi seluruh anak Nusantara yang bergerak memerdekakan Indonesia,” tulis Ferdinand dalam artikel yang diterima JPNN.com, Minggu (23/8/2020).

 

Ferdinand lantas menyitir sejumlah peristiwa sejarah bangsa.

 

Seperti pada 1928, pemuda dan pemudi dari seluruh Nusantara dengan kekayaan budaya lokal masing-masing bersatu dan disatukan dengan kata “kami” dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.

 

Pun pada 1945, katanya, ketika Sidang BPUPKI tanggal 14 Juli di Gedung Tyuuoo Sangi-In -sekarang Gedung Kementerian Luar Negeri-, pada saat diskusi para pendiri bangsa membahas tentang pernyataan kemerdekaan.


Ketika itu, Soekarno bertanya kepada sidang: “Pertanyaan saya yang kedua, “KAMI” atau “KITA”? Yamin menjawab: “KAMI”.


Masih tahun 1945, dalam teks Proklamasi 17 Agustus, kembali kata “KAMI” digunakan sebagai pemersatu identitas bangsa Indonesia yang beragam dalam menyatakan kemerdekaannya.

 

“Sekarang di tahun 2020, kata KAMI terasa menjadi kata pemecah belah, kata pemisah, kata perusak persatuan,” tulis pengurus DPP Partai Demokrat ini.

 

Menurutnya, kata KAMI menjadi tercemar maknanya sejak 18 Agustus 2020.

 

Ketika sekelompok orang yang mengatasnamakan diri Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) mendeklarasikan diri di Tugu Proklamasi Jakarta.

 

“Mendadak kata KAMI tercemar dan kehilangan semangat juangnya, kehilangan semangat pemersatunya karena digunakan oleh sekelompok orang untuk memisahkan diri dan memecah persatuan dari sesama anak bangsa,” katanya.

 

Semestinya, kata Ferdinand, Din Syamsuddin cs tidak mengacaukan persatuan dan tidak memecah kesatuan dan kebersamaan dengan sesama anak bangsa dengan menggunakan kata KAMI.

 

“Semestinya kata KITA adalah kata yang tepat digunakan karena memang KITA semua adalah anak bangsa, anak Ibu Pertiwi yang tidak seharusnya dicerai beraikan oleh ego politik dan ego kelompok,” tegasnya.

 

Untuk diketahui, dalam deklarasinya, sederet tokoh tampak hadir di Tugu Proklamasi.

 

Di antaranya Din Syamsuddin, Gatot Nurmantyo, Refly Harun, Said Didu, Rocky Gerung, Ichsanuddin Noorsy, dan Ahmad Yani.

 

Presidium KAMI, Din Syamsuddin menyatakan, gerakan ini bertujuan untuk menyelamatkan Indonesia.

 

Din juga menyebut bahwa KAMI adalah gerakan moral dari seluruh rakyat Indonsia untuk menegakkan kebenaran, keadilan dan keadilan sosial.


Sebagai gerakan moral, KAMI hanya bergerak berdasarkan moral dan kebenaran yang diyakini berdasarkan keadilan dan kejujuran.

 

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini mengakui, KAMI akan tetap berpolitik moral yang didasarkan pada nilai-nilai moral.

 

Namun demikian, Din tak memungkiri pasti ada saja nantinya pihak-pihak yang akan menggembosi gerakan masyarakat sipil ini.

 

“Sangat mungkin ada yang tidak suka dengan kita, bukan tidak mungkin ada gejala dan gelagat menghalangi kita,” ujarnya saat deklarasi.

 

“Sangat mungkin ada tekanan dan intimidasi dan berbagai bentuk rekayasa yang ingin menggembosi gerakan kita,” katanya.

 

Akan tetapi, ia meyakini bahwa semangat perjuangan KAMI semta-mata demi bangsa dan negara.

 

Untuk itu, ia memastikan KAMI pantang surut dan tetap akan maju.

 

“Mungkin ada yang ingin mengacau, menghasut, maka jangan terhasut, jangan terprovokasi,” tuturnya.

loading...