Menohok! Rocky Gerung Skak Mat Ngabalin & Prof Staf Kominfo: Kalian Berdua Saya yang Gaji! - SWARAKYAT MEDIA

Menohok! Rocky Gerung Skak Mat Ngabalin & Prof Staf Kominfo: Kalian Berdua Saya yang Gaji!

Menohok! Rocky Gerung Skak Mat Ngabalin & Prof Staf Kominfo: Kalian Berdua Saya yang Gaji!



SWARAKYAT.COM - Akademisi Rocky Gerung terlibat debat seru dengan anggota KSP Ali Ngabalin dan staf ahli Kominfo Prof Dr Henri Subiakto dalam acara Dua Sisi TVOne.

 

Akademisi Rocky Gerung menyoroti temuan Indonesia Corruption Watch ( ICW) terkait pembiayaan influencer untuk menyosialisasikan program-program pemerintah.

 

Peneliti ICW Wana Alamsyah menyinggung penggunaan jasa influencer dapat mengabaikan peran bagian kehumasan yang seharusnya melakukan tugas itu.

 

Ali Ngabalin kemudian menanggapi kritik Rocky Gerung dan Wana Alamsyah tersebut.

 

"Saya mau bilang, tidak ada urusannya dengan Wana dan Rocky terkait dengan Biro Pers kah, Kehumasan kah," kata Ali Ngabalin.

 

"Bukan urusanmu itu. Itu organisasi pemerintah. Bahwa kalau pemerintah membutuhkan dalam penyebaran informasi," tambah dia.


Ia menjelaskan pihaknya menggunakan jasa pemuka masyarakat untuk membantu mengkampanyekan program pemerintah.

 

Ngabalin menilai langkah itu tidak bertentangan dengan regulasi mana pun.

 

"Saya lagi-lagi menggunakan istilah pemuka pendapat, influencer, dan lain-lain. Dalam rangka apa? Dalam rangka menyukseskan sebuah program pemerintah yang diluncurkan," paparnya.

 

Ia lalu menilai anggaran influencer itu tidak perlu perlu menjadi sorotan berlebihan.

 

"Apa masalahnya di situ? Undang-undang mana yang dilarang? Kenapa justru menjadi masalah?" tanya staf KSP ini.

 

Ngabalin juga menyinggung tuduhan Rocky Gerung bahwa penggunaan influencer itu bertujuan menutupi kegagalan pemerintah.

 

Ia menilai tuduhan Rocky ini tidak berdasar.

 

"Supaya rakyat juga jadi tahu. Kalau posisi ini Wana harus bilang untuk Biro Kehumasan atau Rocky menyebutkan harus dibubarkan atau gagal, di mana ukurannya? Apa masalahmu dengan barang itu?" tanya Ngabalin.

 

Sebelumnya Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika Henry Subiakto turut membantah pihaknya menggunakan jasa influencer yang berbayar.

 

Ia bahkan menyebutkan kritik terhadap anggaran itu hanya berdasar persepsi semata.

 

"Di tempat saya enggak ada influencer itu. Apa yang dipersepsikan oleh siapapun, saya enggak tahu, termasuk mungkin Rocky atau dia (Wana), itu jelas-jelas salah," tegas Henry Subiakto.

 

"Dan mohon maaf, komunikasi publik dan humas itu ada di tempat saya," tandasnya.

 

Dalam tayangan yang sama, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin mempertanyakan tuduhan yang dilontarkan akademisi Rocky Gerung.

 

Rocky Gerung tengah menyoroti temuan Indonesia Corruption Watch (ICW) terkait dana pembiayaan influencer senilai Rp90,45 miliar.

 

Ia menilai penggunaan jasa influencer itu adalah untuk menutupi ketidakmampuan pemerintah dalam mensosialisasikan programnya.

 

"Hari-hari ini memang ada ketidakpercayaan pada semua informasi pemerintah itu. Saya enggak berharap informasinya palsu, tapi faktanya orang tidak percaya," papar Rocky Gerung.


Ia menyinggung ada survei dari Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang menyebutkan 29 persen masyarakat masih percaya pemerintah dapat mengatasi krisis ekonomi.

 

"SMRC mengeluarkan survei itu setelah dana publikasi ini keluar 'kan. Itu semacam orang mau jualan sapi, sapinya kurus, supaya kelihatan beratnya, itu digelontorin air ke dalam perutnya," sindir Rocky.

 

Pernyataan itu segera dibantah Ali Ngabalin.

 

Ia menilai tuduhan Rocky tidak berdasar penelitian atau fakta di lapangan.

 

"Kerangka berpikir yang dipakai Rocky itu tidak sejalan dengan fakta. Kalau Rocky mengatakan fakta, maka dia harus bisa menunjukkan sebuah terminologi penelitian seperti yang dilakukan ICW," bantah Ali Ngabalin.

 

Ngabalin menyinggung tuduhan Rocky sebelumnya yang menyebut ada ketidakberesan dan ketidakberhasilan program pemerintah, sehingga perlu menggunakan jasa influencer.

 

"Atau tadi Anda memakai 'ketidakpercayaan publik'. Yang saya bilang tidak sejalan dengan terminologi itu adalah terkait dengan program pemerintah diluncurkan kepada masyarakat, tidak semua masyarakat itu pintar seperti Rocky," jelasnya.

 

Ia memaparkan program-program pemerintah itu perlu dijelaskan oleh sejumlah tokoh yang dikenal, seperti pemuka masyarakat, termasuk influencer.

 

Namun Ngabalin menyoroti tuduhan Rocky terkait adanya ketidakpercayaan pemerintah.

 

Menurut dia, tuduhan ini tidak berdasar dan tidak ada hubungannya.

 

"Kalau Rocky mengatakan fakta dan publik tidak percaya atas ketidakberesannya, apa yang dipakai? Karena ini publik lagi nonton," tegas Ngabalin.

 

Ngabalin menuntut Rocky menjelaskan asal tuduhannya, terutama terkait ketidakpercayaan terhadap pemerintah.

 

Ia menilai hal ini perlu diluruskan agar informasi yang sampai ke masyarakat tidak simpang-siur, bahkan menimbulkan fitnah.

 

"Kalau dia menggunakan kata publik, referensi apa yang dipakai? Jangan hanya ngerecok ke sana kemari. Itu akan bisa menyebarkan fitnah dan tidak mendidik publik, 'kan Rocky suka begitu kalimatnya," katanya.

 

"Kalau tidak dibantah, pernyataan-pernyataan yang menyesatkan ini bisa merusak publik," tandas Ngabalin.

 

Di ujung acara Rocky langsung mengeluarkan pernyataan pamungkas terkait kepentingannya menyoroti hal ini.

 

"Saya jelas punya kepentinga, mengapa? karena Anda berdua saya yang gaji," kata Rocky.

 

Tak terima dengan hal itu ngabalin pun mempertanyakan dari mana Rocky bisa menggajinya.

 

"Jangan bilang kau punya uang bayar saya," kata Ngbali mulai emosi.

 

"Saudara Ngabalin saya terangkan. Honor saya dari TVOne untuk acara ini dipotong pajak, masuk ke negara, itu untuk bayar anda,' kata Rocky.

 

Sementara Prof Henri Subiakto  hanya terdiam mendengar perdebatan itu.

 

Liat selengkapnya di video berikut:


loading...