Sesudah Jokowi Tumbang - SWARAKYAT MEDIA

Sesudah Jokowi Tumbang

Sesudah Jokowi Tumbang



SWARAKYAT.COM - Ada benarnya ketika Soeharto melihat kenyataan RRC secara terang-benderang membantu PKI menjelang G30S 1965, yaitu dengan memutuskan hubungan diplomatik... Lalu disusul dengan kebijakan pengawasan dengan ketat terhadap WNI Keturunan , antara lain, tidak boleh main politik... Bagaimana kebijakan itu dilaksanakan di lapangan, tidak jelas. Mungkin lewat jaringan intelijen.


Orang-orang keturunan  ini memang gawat. Ada yang setia kepada Republik, ada yang membenci, dan ada pula yang separo-separo... Sekalipun semuanya mencari nafkah di Bumi Pertiwi. Yang tidak suka kepada Republik dan Pribumi, adalah mereka yang menganggap lebih tinggi derajatnya.


Mereka itu keturunan Tartar yang kalah perang melawan Raden Widjaja pada 1200an...dan menjadi tawanan perang... Lalu dipaksa ikut membangun Majapahit. Mereka dendam dengan orang-orang Pribumi... Mereka masih berkiblat ke  Daratan. Terlebih sesudah Belanda masuk, mereka pun diangkat menjadi mediator, dan dengan kedudukan tinggi  di atas Pribumi...


Dengan _privilege_ yang mereka miliki dari Belanda, antara lain, memungut pajak, berdagang candu, membuka tempat judi dan lain-lain, disertai kepiawaian mereka dalam berdagang dengan menipu, mereka menjadi kaya. Mereka pandai dengan menyembunyikan kekayaan mereka, yaitu dengan menyimpan harta dan hidup bersahaja. Mereka pun saling tolong-menolong dan percaya di antara sesama  saja.


Mereka hidup dengan cara segregatif secara berlebihan terhadap pribumi... Mereka juga tidak suka dengan yang berbau Pribumi, termasuk Agama Isam, dan menganggapnya sebagai perilaku primitif. Penyerahan diri terhadap Yang Maha Kuasa dan tujuan kepada kehidupan Akhirat dianggapnya sebagai kelemahan.


Larangan beraktivitas politik, tapi kebebasan seluasnya dalam kehidupan bisnis merupakan kesempatan besar bagi mereka untuk menguasai kehidupan Duniawi. Mereka pula yang memanfaatkan keleluasaan era Pembangunan. Terlebih-lebih pada era deregulasi di bidang Keuangan dan Perbankan. Mereka benar-benar menjadi Penguasa Bisnis... menjadi Ikan Hiu di Lautan luas, atau Singa di Belantara Serengeti, Afrika.


Maka Soeharto pun dianggap menjadi orang yang melahirkan para Naga... Mungkin maksud Soeharto mau memanfaatkan dan sekaligus belajar dari mereka. Soeharto tidak menyangka, bahwa kebanyakan dari mereka adalah Benalu... Kebanyakan jiwa mereka adalah kapitalis, liberalis, individualis, bahkan kolonialis dan imperialis... Sedang orang Indonesia lebih mengutamakan asas kekeluargaan... Yang menerima Penjajah Bule, Kuning, Item tanpa curiga...


Dengan keharusan mereka Ganti Nama, bertambah sulitlah kita, para Pribumi yang diwarisi Tanah Air Nusantara ini, membedakan yang  Jahat dengan yang  Loyal. Padahal orang macam Kwik Kian Gie dan Yap Thiam Hien pasti lebih loyal kepada RI dibanding dengan Prayogo Pangestu atau Joko Widodo... Kalau mereka dulu dekat dengan Belanda, pasca kemerdekaan mereka pun pandai mendekati para penguasa macam Soeharto dan Megawati serta para jenderal yang punya pangkat. Mereka selalu punya maksud tersembunyi...


Benar-benar para keturunan  ini bak mendapat Durian Runtuh berupa Tanah Air yang menjadi harapan mereka, dibanding Tanah Daratan Nenek Moyangnya. Tapi dasarnya orang  kebanyakan jiwa-raga dan loyalitasnya hanya kepada Tiong Kok. Jadi, apakah Donald Trump memperlakukan mereka sama atau dengan diskriminasi, loyalitas mereka tetaplah kepada Xi Jinping. Soeharto dan lain-lain pun tertipu!


Di Indonesia Soeharto dan para pembesar kita seharusnya melakukan kebijakan yang _highly selective_... Ini adalah bagian dari _National Security_ yang samasekali diabaikan Indonesia selama 75 tahun merdeka... Padahal Negara-negara di Eropa dan Amerika menerapkannya dengan amat sangat baik selama ini dengan memberlakukan _White Supremacy_ dan _Chrystian Supremacy_. Tapi kiranya sudah agak terlambat bagi kita. Kebanyakan dari para Anak Turun Tartar ini sudah bersimaharajalela, menjadi amat sangat liar dan berbahaya.


Republik ini sepertinya sudah terjajah... Mirip Bangsa Palestina yang dijajah Israel yang sekarang menjadi Negara Yahudi. Penjajah Inggris pulalah yang membawa mereka "tempat berteduh dari panas dan hujan", seperti kita menerima para Keturunan . Puluhan, ratusan lalu ribuan orang-orang Yahudi berdatangan mulai 1915. Awalnya mulut mereka manis... Tetapi, ketika Inggris meninggalkan Timur Tengah, mereka meninggalkan pula persenjataan lengkap mereka bagi para Yahudi.


Mereka menjadi Angkara... Dalam waktu relatif pendek, mereka menguasai bisnis, perdagangan, industri dan keuangan para Arab Palestina. Mereka pun mulai merampok tanah-tanah Palestina... persis seperti kelakuan Ciputra, Sumarecon, Sinar Mas, Agung Podomoro, Sedayu, Lippo dan lain-lain...


Lalu pada hari yang awalnya disepakati sebagai hari di mana Yahudi dan Arab Palestina berjanji untuk hidup berdampingan, ternyata menjadi hari Deklarasi Kemerdekaan Israel, 14 Mei 1948. Masyarakat Palestina yang mayoritas Muslim tertipu. Pada hari itu, orang-orang Palestina mulai diusir dari Tanah Airnya... Ada 600 ribu yang dipaksa Hijrah ke Suriah, Yordan dan Libanon... dan dilarang pulang kembali!


Itulah hari Na'as Bangsa Palestina! Hari Penyesalan, Hari yang amat Menyedihkan, Hari _Catastrophic_, Hari Malapetaka... Hari _Al-Nakba_... yang selalu diperingati dengan Tangis dan Air Mata.


Sejak hari itu, segala perjuangan Bangsa Palestina untuk kembali Berdaulat di Tanah Airnya selalu gagal. Presiden Harry S. Truman dan AS sehari kemudian mendukung terbentuknya Negara Israel itu... Lalu Inggris, Perancis dan seluruh Eropa...


Ribuan nyawa dan banjir darah yang mengalir dari Bangsa Palestina yang berjuang untuk berdaulat kembali dibalas dengan semakin sempitnya wilayah Palestina. Demikian pula Perang 1967 yang merupakan Perang Koalisi para Salibi bersama Israel melawan Koalisi Islam bersama Bangsa Arab semakin menempatkan Palestina menjadi Bangsa Terjajah... dengan tanah yang tinggal secuil! Sampai hari ini!


Akankah Republik Indonesia dilindas dalam tiga hari, seperti dibilang Gatot Nurmantyo?!


Jakarta, 28/8/20


Oleh: Sri-Bintang Pamungkas

loading...