DKI PSBB Lagi, Epidemiolog UI Ungkap Fakta Mengerikan Buat Warga Jakarta - SWARAKYAT MEDIA

DKI PSBB Lagi, Epidemiolog UI Ungkap Fakta Mengerikan Buat Warga Jakarta

DKI PSBB Lagi, Epidemiolog UI Ungkap Fakta Mengerikan Buat Warga Jakarta



SWARAKYAT.COM - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memutuskan menerapkan kembali Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ketat seperti awal pandemi Covid-19.

 

Hal itu dipicu melonjaknya angka Covid-19 di Ibu Kota sejak dua pekan terakhir ini.

 

Berdasarkan catatan, dalam dua pekan itu, kasus positif di Jakarta bertambah di atas 1.000 kasus per hari.

 

Jakarta juga menjadi provinsi kedua di Indonesia dengan angka kematian tertinggi setelah Jawa Timur.

 

Penyebabnya, adalah karena banyak pasien datang dalam kondisi berat atau kritis atau yang biasa disebut dengan istilah probable.

 

Dalam Peraturan Menteri Kesehatan, probable adalah pasien yang kondisinya berat dan parah infeksinya, disertai kondisi ARDS Acute Respiratory Distress Syndrome atau ARDS atau gagal napas.

 

Dan pasien meninggal yang klinisnya meyakinkan bahwa gejalanya mendekati Covid-19.

 

Ha itu bisa diyakini dari gambar foto rontgen paru-paru atau darah, misalnya. Dan pasien kategori ini belum terkonfirmasi PCR atau TCM.

 

Epidemiolog Universitas Indonesia dr. Syahrizal Syarif bahkan menyebutkan pasien probable di Jakarta mencapai lebih dari 90 persen meninggal dunia.

 

Dari angka tersebut, kebanyakan belum sempat diketahui hasil tes PCR spesimennya apakah positif atau tidak.


“Lihatnya probable saja. Jakarta itu probablenya berapa yang meninggal? Meninggalnya 95 persen coba,” katanya kepada JawaPos.com, Rabu (9/9).

 

Artinya, kata dia, kasus-kasus pasien kondisi berat menunggu terlalu lama.

 

“Untuk hasil PCR-nya itu pasien probable menunggu terlalu lama,” bebernya.

 

Mereka juga harus ‘berebut’ ruang ICU dengan pasien lainnya. Belum lagi, hasil spesimen dengan uji PCR terlalu lama diumumkan.

 

“Kalau Nunggu itu dokter masih ragu-ragu, ini pasien mau diapain. Ini mau melakukan apa. Eh keburu meninggal gara-gara menunggu, itu problem,” jelasnya.

 

“Saya saja, dari minggu lalu PCR sampai hari ini 7 hari belum keluar hasilnya. (Itu posisinya) Jakarta Pusat coba,” tambahnya.

 

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memastikan kondisi wabah covid-19 kembali seperti awal dengan situasi darurat.

 

Masyarakat juga diminta kembali bekerja, belajar dan beribadah di rumah saja mulai 14 September 2020.

 

Sementara sektor-sektor yang akan dievaluasi izinnya akan diumumkan kemudian.

 

Hal ini diikuti dengan penutupan kembali tempat-tempat hiburan dan pelarangan kerumunan.

 

Saat ini, ambang batas kapasitas rumah sakit untuk ruang isolasi dan ICU sudah melampaui angka batas aman.

 

Diperkirakan akan mencapai kapasitas maksimal pada 17 September 2020 dan setelah itu fasilitas kesehatan DKI Jakarta akan kolaps.


Anies menyatakan, rumah ibadah di dalam komplek permukiman diperbolehkan buka tapi hanya untuk masyarakat setempat.

 

Selain itu, restoran atau rumah makan hanya diperbolehkan melayani take home alias tidak boleh makan di tempat.

loading...