Bikin Situasi Tambah Panas! Begini Isi Cuitan Mahathir yang Menyulut Kegeraman Prancis - SWARAKYAT NEWS

Bikin Situasi Tambah Panas! Begini Isi Cuitan Mahathir yang Menyulut Kegeraman Prancis

Bikin Situasi Tambah Panas! Begini Isi Cuitan Mahathir yang Menyulut Kegeraman Prancis



SWARAKYAT.COM - Cuitan mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahatir Mohamad di media sosial Twitter, mengundang kegeraman Prancis.


Cedric O, Menteri Junior Prancis untuk urusan digital, mengatakan dalam sebuah cuitan dalam bahasa Prancis dan Inggris: "Saya baru saja berbicara dengan MD (direktur pelaksana) @TwitterFrance," tulisnya.




"Akun @chedetofficial harus segera ditangguhkan. Jika tidak, @twitter akan menjadi kaki tangan seruan formal untuk pembunuhan," katanya saat meminta akun Mahathir itu ditangguhkan.




Twitter awalnya tidak menghapus cuitan pria berusia 95 tahun tersebut. Namun belakang, situs microblogging itu akhirnya mengahapus cuitan Mahatir usai mendapat reaksi marah dari pemerintah Prancis.




Twitter mengatakan kepada AFP bahwa hal itu karena komentar tersebut "melanggar kebijakan tentang pemujaan kekerasan."



Seperti dilansir kantor berita AFP, Mahathir menulis komentar yang menghebohkan dalam serangkaian tweet. 




Meski tidak secara langsung merujuk ke insiden serangan di Nice, namun cuitan tersebut bikin panas Prancis.




Pria yang pernah dua kali menjabat sebagai PM Malaysia itu menulis bahwa Muslim memiliki hak 'untuk membunuh jutaan orang Prancis' atas pembantaian di masa lalu.




Mahathir sedikit menyinggung soal pembunuhan Samuel Paty dengan mengatakan bahwa dirinya tidak menyetujui serangan itu, tetapi kebebasan berekspresi tidak termasuk 'menghina orang lain'.




"Terlepas dari agama yang dianut, orang-orang yang marah membunuh," tulisnya.




"Prancis dalam perjalanan sejarahnya telah membunuh jutaan orang. Banyak di antaranya adalah Muslim. Muslim memiliki hak untuk marah dan membunuh jutaan orang Prancis untuk pembantaian di masa lalu," kata Mahathir.




Tapi dia menambahkan bahwa "pada umumnya Muslim belum menerapkan hukum 'mata ganti mata'. Muslim tidak. Orang Prancis juga tidak seharusnya."




Mahathir juga mengatakan, bahwa Presiden Prancis Emmanuel Macron "tidak menunjukkan bahwa dia beradab", seraya menambahkan bahwa dia "sangat primitif".




"Prancis harus mengajari orang-orangnya untuk menghargai perasaan orang lain. Karena Anda telah menyalahkan semua Muslim dan agama Muslim atas apa yang dilakukan oleh satu orang yang marah, maka Muslim berhak menghukum orang Prancis."