Jenderal Gatot Benar, Mahasiswa Penolak Acara KAMI Surabaya Ngaku Dibayar 100 Ribu - SWARAKYAT MEDIA

Jenderal Gatot Benar, Mahasiswa Penolak Acara KAMI Surabaya Ngaku Dibayar 100 Ribu

Jenderal Gatot Benar, Mahasiswa Penolak Acara KAMI Surabaya Ngaku Dibayar 100 Ribu



SWARAKYAT.COMDeklarator Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), Gatot Nurmantyo sempat menyebut pendemo di acara KAMI Jatim sebagai demonstran bayaran. Kini ada pengakuan bahwa mereka dibayar Rp 100 ribu.


Pernyataan itu dibenarkan oleh M Syarif Tuasikal, selaku Sekjen Ikatan Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Pelauw (IPPMAP). "Iya mereka mahasiswa dari IPPMAP yang ikut demo di Jabal Nur kemarin dibayar. Satunya dibayar Rp 100 ribu, satunya gak ngaku kalau dibayar," kata M Syarif saat dikonfirmasi detikcom, Kamis (1/10/2020).


Video pengakuan demonstran bayaran dalam acara KAMI Jatim pada Senin (28/9), beredar. Dalam video tampak dua mahasiswa yang diduga demonstran mengaku ikut demo karena dibayar.

 

Dalam video yang dilihat detikcom di channel YouTube Hersubeno Point, tampak dua mahasiswa sedang ditanya oleh seorang pria. Pria yang bertanya tersebut diketahui bernama M Syarif Tuasikal, selaku Sekjen IPPMAP (Ikatan Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Pelauw).

 

Dalam video tersebut juga tampak pembawa acara Forum News Network (FNN), Hersubeo Arief, berdialog secara daring dengan M Syarif Tuasikal. “Itu ceritanya gimana itu anak-anak yang ketemu Anda dan kemudian minta maaf. Gimana ceritanya mereka datang sendiri pada Anda atau dicari. Gimana ceritanya,” tanya Arief kepada Syarif, seperti dalam video yang dilihat detikcom, Kamis (1/10/2020).

 

“Jadi waktu aksi pada tanggal (28/9) kemarin itu mereka kelihatan. Jadi mereka ini dihubungi malamnya. Kemudian ketemu di warung kopi, besok ada demo tempat ketemuannya di Gedung Juang 45. Sampai di sana dipindah. Pas pindah di Jabal Nur, mereka tahu tempat berkumpul siapa di sana,” Jawab Syarif.

 

“Saya tanya ngapain kamu bergabung, tapi karena sudah didesak akhirnya mereka hadir. Mereka sembunyi-sembunyi, tapi ketahuan dan akhirnya gak bisa lari lagi, akhirnya masuk ke Jabal Nur. Saya bilang kesalahanmu itu kamu kan tahu, hal-hal seperti demo untuk pengalaman meningkatkan public speaking, harusnya tahu acara yang kamu demo apa dulu. KAMI itu seperti apa dan siapa orang-orangnya. Aktivis mahasiswa harus tahu, jangan sampai kayak kerbau ditusuk tali hidungnya ke mana-mana diajak lari. Kamu bergabung dengan orang yang belum tentu seintelektual seperti kamu,” lanjut Syarif.

 

Dalam cuplikan video itu, Syarif kemudian menjelaskan bahwa dirinya bertanya kepada salah satu demonstran yang ia temui, apakah demonstran itu dibayar atau tidak.

 

“Dikasih uang berapa? Rp 100 ribu. Jadi mereka ini diajak apa gak tahu. KAMI itu apa. Orang di dalamnya itu siapa, dan yang menggerakannya itu siapa. Mestinya mereka tahu siapa, sehingga tidak terlibat,” ujar Syarif dalam video tersebut.

 

“Kebetulan adik-adik yang kemarin sempat ikut demo kemarin di Jabal Nur, mereka ini tidak tahu, kita tanya kronologisnya, mereka diiming-imingi duit, mereka ga seperti itu. Ini juga adik-adik kita,” imbuhnya.

 

Syarif kemudian bertanya soal kronologi dua mahasiswa tersebut ikut sebagai demonstran bayaran. “Sebelumnya saya diajak di suatu warkop, datangnya telat. Terus Cuma dibilang besok ada aksi awalnya di Gedung Juang 45. Terus diminta bergabung. Pas ikut di sana diarahkan ke Jabal Nur, langsung diarahkan. Titik kumpul di Gedung Juang 45. Ada 20 orang lebih. Saya dikasih uang Rp 100 ribu,” ungkap salah seorang mahasiswa yang jadi demonstran bayaran untuk berdemo di Jabal Nur, (28/9) lalu.

 

Syarif akhirnya membela keduanya. Menurutnya, kedua mahasiswa tersebut tidak tahu. Meski begitu, salah satu mahasiswa mengaku tidak menerima uang.

 

“Satu mengaku menerima Rp 100 ribu. Dan satunya tidak mengaku menerima. Tapi dari psikologisnya kelihatan berbohong (yang tidak menerima),” jelas Syarif.

 

“Mereka ini tidak tahu, mereka cuma hadir, ada yang cari pengalaman. Ini sebagai pembelajaran agar ke depan acaranya apa, yang didemo siapa. Adik-adik ini masih mahasiswa makanya ini ke depan harus bisa memilih dan memilah mana yang betul. Intinya mereka tidak tahu masalah. Mereka juga harus minta maaf kepada pemilik Jabal Nur,” lanjut Syarif.

 

Kedua mahasiswa tersebut akhirnya meminta maaf lewat video tersebut kepada pemilik Jabal Nur. Video yang diunggah di channel Hersubeno Point ini sudah dilihat 57 ribu kali. Video yang di-upload sekitar pukul 08.00 WIB itu mendapat 2,3 ribu like dan 105 dislike. Lalu terdapat 871 komentar.

 

M Syarif Tuasikal selaku Sekjen IPPMAP yang ada di dalam video berdurasi 20 menit 14 detik mengakui bahwa dua mahasiswa itu demonstran bayaran.

 

“Iya benar. Itu saya yang tanya ke mereka. Soal demo di KAMI beberapa waktu lalu,” kata Syarif saat dikonfirmasi detikcom, Kamis (1/10/2020).

 

Senin (28/9), Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) Jawa Timur menggelar acara di Graha Jabal Nur dan di Gedung Juang 45 Surabaya. Namun dua acara tersebut mendapat penolakan dari massa yang akhirnya menggelar demo.

 

Acara silaturahmi di Graha Jabal Nur, Jambangan Surabaya mendapat penolakan dari massa Koalisi Indonesia Tetap Aman (KITA). Acara tersebut dihadiri salah satu deklarator KAMI, Gatot Nurmantyo yang bersilaturahmi dengan para kiai dan habaib Jatim.

 

Sementara acara di Gedung Juang 45 Surabaya mendapat penolakan dan pengadangan dari massa Surabaya Adalah Kita. Menanggapi hal itu, Gatot menyebut demonstran yang menghalangi acara KAMI Jatim merupakan demonstran bayaran.

loading...