Begini Konstruksi Perkara Benih Lobster Yang Bikin Menteri KKP Edhy Prabowo Masuk Bui - SWARAKYAT NEWS

Begini Konstruksi Perkara Benih Lobster Yang Bikin Menteri KKP Edhy Prabowo Masuk Bui

Begini Konstruksi Perkara Benih Lobster Yang Bikin Menteri KKP Edhy Prabowo Masuk Bui



SWARAKYAT.COM -  Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjelaskan konstruksi perkara yang menjerat Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo serta 6 tersangka lainnya, dalam kasus dugaan suap terkait perizinan tambak, usaha dan/atau pengelolaan perikanan atau komoditas perairan sejenis lainnya tahun 2020.




Ketujuh tersangka tersebut kini telah ditahan KPK. Termasuk, Staf Khusus Menteri Kelautan dan Perikanan sekaligus Ketua Pelaksana Tim Uji Tuntas (Due Diligence) Andreau Pribadi Misata (APM) dan swasta/Sekretaris Pribadi Menteri Kelautan dan Perikanan Amiril Mukminin (AM), yang menyerahkan diri siang ini.




Sedangkan lima orang lainnya, telah lebih dulu ditetapkan menjadi tersangka pada Kamis (26/11) dini hari. Mereka adalah Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo (EP), Staf Khusus Menteri Kelautan dan Perikanan sekaligus Wakil Ketua Pelaksana Tim Uji Tuntas (Due Diligence) Safri (SAF), pengurus PT Aero Citra Kargo (ACK) Siswadi (SWD), staf istri Menteri Kelautan dan Perikanan Ainul Faqih (AF), dan Direktur PT Dua Putra Perkasa (DPP) Suharjito (SJT).




Deputi Penindakan KPK Karyoto mengatakan, kronologis perkara bermula pada 14 Mei 2020. Ketika itu, EP (Edhy Prabowo) selaku Menteri Kelautan dan Perikanan menerbitkan Surat Keputusan Nomor 53/KEP MEN-KP/2020 tentang Tim Uji Tuntas (Due Diligence) Perizinan Usaha Perikanan Budidaya Lobster.




"Edhy lalu menunjuk Andreau selaku staf khusus Menteri, yang juga Ketua Pelaksana Tim Uji Tuntas (Due Diligence) untuk memeriksa kelengkapan administrasi dokumen yang diajukan oleh calon eksportir benur," papar Karyoto dalam konferensi pers, Kamis (26/11).




Selanjutnya, pada awal Oktober 2020, SJT selaku Direktur PT DPP menemui AM di kantor KKP dan melakukan kesepakatan untuk nilai biaya angkut Rp 1.800/ekor dengan APM dan SWD.




Atas kegiatan ekspor benih lobster tersebut, PT DPP diduga melakukan transfer sejumlah uang ke rekening PT ACK dengan nilai total Rp 731.573.564.




"Selanjutnya, atas arahan EP melalui Tim Uji Tuntas (Due Diligence), PT DPP memperoleh penetapan kegiatan ekspor benih lobster/benur. PT DPP juga telah melakukan 10 kali pengiriman, menggunakan perusahaan PT ACK," ungkap Karyoto.




Kemudian, pada 5 November 2020, diduga terdapat transfer dari rekening pemegang PT ACK Ahmad Bahtiar (ABT) ke rekening salah satu bank atas nama Ainul sebesar Rp 3,4 miliar yang ditujukan bagi keperluan Edhy, istrinya Iis Rosita Dewi, Safri, dan Andreau. Antara lain, untuk keperluan Edhy dan istrinya belanja barang mewah di Honolulu, AS pada tanggal 21-23 November 2020, senilai Rp 750 juta.




Barang yang dibelanjakan di antaranya berupa jam tangan Rolex, tas Tumi dan LV, dan baju Old Navy.




Di samping itu, pada sekitar Mei 2020, Edhy juga diduga menerima sejumlah uang sebesar 100 ribu dolar AS dari Suharjito melalui Safri dan Amiril.




Selain itu, Safri dan Andreau pada sekitar Agustus 2020 juga telah menerima sejumlah uang dengan total sebesar Rp436 juta dari Ainul.