Berikut 9 Fakta Jual-Beli Senjata Api untuk OPM, Dikirim dari Jakarta dengan Dokumen Resmi, Harga Rp350 Juta per Pucuk - SWARAKYAT NEWS

Berikut 9 Fakta Jual-Beli Senjata Api untuk OPM, Dikirim dari Jakarta dengan Dokumen Resmi, Harga Rp350 Juta per Pucuk

Berikut 9 Fakta Jual-Beli Senjata Api untuk OPM, Dikirim dari Jakarta dengan Dokumen Resmi, Harga Rp350 Juta per Pucuk



SWARAKYAT.COM -  Polda Papua sudah menetapkan tiga orang sebagai tersangka kasus jual beli senjata api serbu kepada kelompok separatis bersenjata di Papua.


Berikut sejumlah fakta terkait kasus tersebut, berdasar keterangan Kapolda Papua Irjen Pol Paulus Waterpauw.




1. Melibatkan oknum anggota Brimob dari Kelapa Dua, Depok.




Jual beli senjata api melibatkan oknum anggota Brimob Kelapa Dua Bripka MJH (35).




Selain itu, juga DC (39) yang merupakan ASN yang juga anggota Perbakin Nabire, serta FHS (39) mantan anggota TNI AD.




Para tersangka ditahan di Mapolda Papua, Jayapura.




2. Jenis senjata api.




Dari laporan penyidik terungkap kasus jual beli senjata api berbagai jenis dilakukan sejak 2017.




Penyidik menyita barang bukti tiga pucuk senpi yang diamankan yakni jenis M16, M4, dan Glock.




 


3. Senpi dibawa dari Jakarta berdokumen lengkap.




Senpi tersebut dibawa melalui rute Jakarta-Makassar-Timika-Nabire.




Setibanya di Nabire langsung diserahkan ke DC yang selanjutnya menyerahkannya ke pemesan.




“Senjata api yang dibawa Bripka MJH itu dilengkapi dokumen, sehingga tidak ada masalah saat diangkut dengan pesawat dari Jakarta hingga ke Nabire,” kata Waterpauw.



4. Harga senjata api yang dijual.




Senjata api itu dijual kepada pemesan melalui DC dibandrol berkisar antara Rp300 juta hingga Rp350 juta tergantung jenis.




5. Pemesan inisial SK.




Irjen Paulus Waterpauw menyebut pemesan senjata api yakni SK.




“Hingga kini SK belum ditemukan, sehingga penyidik belum bisa meminta keterangan dari yang bersangkutan,” kata Waterpauw.




6. Upah yang diterima oknum anggota Brimob.




Irjen Pol Waterpauw menjelaskan, dari hasil pemeriksaan juga terungkap anggota Polri yang bertugas di Brimob Kelapa Dua sudah tujuh kali membawa senjata api ke Nabire.




Setiap pengiriman, ia mendapat upah berkisar dari Rp10 juta hingga Rp30 juta tergantung jenis senjata api yang dibawa.




7. Ada dugaan senjata dipakai Kelompok Kriminal Bersenjata atau KKB.




Senjata api yang dijual sampai dengan Rp350 juta itu diduga digunakan KKB untuk menembak warga sipil serta aparat keamanan.




Waterpouw mengakui, anggota di lapangan sudah lama memonitor adanya kasus jual-beli senjata api ke KKB.




Mengingat saat ini aksi kelompok bersenjata khususnya di wilayah Intan Jaya makin meningkat hingga menimbulkan korban jiwa baik warga sipil maupun aparat keamanan.




Terungkapnya kasus tersebut setelah ada informasi masuknya dua pucuk senjata api jenis MI16 dan M4 melalui Timika ke Nabire.




Sehingga dilakukan pendalamanan dan akhirnya terbongkar dengan diamankannya Bripka MJH dari sesaat setibanya di Nabire via Timika dan Makassar.




8. Aktor intelektual penjualan senjata api ke Papua.




Kapolda Irjen Paulus Waterpauw menegaskan masih terus melakukan penyelidikan agar kasus tersebut makin terungkap.




“Kami akan terus berupaya untuk membongkar jaringan jual beli senpi dan berharap masyarakat membantu dengan memberikan informasi,” harap Waterpauw.




9. Ancaman hukuman.




Tiga tersangka dijerat dengan Pasal 1 ayat 1 UU Darurat No 12 Tahun 1951