Indonesia Alami Resesi Pertama dalam 22 Tahun, Jumlah Pengangguran Terbanyak dalam 9 Tahun - SWARAKYAT NEWS

Indonesia Alami Resesi Pertama dalam 22 Tahun, Jumlah Pengangguran Terbanyak dalam 9 Tahun

Indonesia Alami Resesi Pertama dalam 22 Tahun, Jumlah Pengangguran Terbanyak dalam 9 Tahun



SWARAKYAT.COM -  Produk domestik bruto menyusut 3,49% dari tahun lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pada Kamis (5/11), lebih buruk dari kontraksi 3,2% yang diharapkan dalam survei Bloomberg terhadap 27 ekonom. Itu terjadi setelah PDB turun 5,32% pada kuartal kedua.


Namun, para pejabat melihat harapan pada kenyataan bahwa kontraksi semakin menyempit. 




Dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, PDB meningkat 5,05% dalam tiga bulan hingga September, sementara ekonom memperkirakan pertumbuhan 5,55%.




“Ini menunjukkan peningkatan, dan arahnya semakin positif,” ujar Kepala BPS Suhariyanto, dikutip Bloomberg. “Kami berharap situasi kuartal keempat akan menjadi lebih baik dengan pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB).”




Saham Indonesia naik sebanyak 3% setelah pengumuman tersebut, naik ke level tertinggi dalam dua bulan. Rupiah menguat sebanyak 1,3% terhadap dolar AS, menandai kenaikan ketiga hari berturut-turut.




Pemerintah berharap resesi hanya berlangsung sebentar. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, keadaan terburuk telah berakhir bagi perekonomian Indonesia, dengan pemulihan investasi dan penguatan konsumsi. 




Perekonomian harus menunjukkan momentum pertumbuhan yang positif pada kuartal terakhir tahun ini, katanya.




Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan dalam arahan pada Kamis (5/11) malam, PDB kuartal ini dapat berkisar dari kontraksi 1,6% hingga ekspansi 0,6%.




“Mudah-mudahan kita bisa menutup tahun dengan pertumbuhan sekitar atau di atas nol,” ucap Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa di acara yang sama.




Pemerintah telah memangkas perkiraan ekonominya beberapa kali, dan sekarang memperkirakan PDB akan berkontraksi antara 0,6% hingga 1,7% untuk setahun penuh. 




Pengetatan pembatasan sosial di Jakarta di tengah lonjakan kasus virus, telah memperlambat pemulihan.




Permintaan domestik (andalan ekonomi Indonesia) belum pulih, dengan inflasi inti yang terus melemah sejak Maret. 




Negara ini telah mencatat surplus perdagangan dalam beberapa bulan terakhir karena ekspor meningkat, tetapi indeks manajer pembelian baru-baru ini menunjukkan manufaktur terus kesulitan, lapor Bloomberg.



“Pertumbuhan diuntungkan dari peningkatan konsumsi pemerintah dan impor yang lemah, yang mencerminkan kelemahan berkelanjutan dalam konsumsi dan investasi swasta,” tulis Priyanka Kishore dari Oxford Economics dalam sebuah catatan penelitian. “Ini membuat kita tetap berhati-hati dengan kecepatan pemulihan ke depan.”




Bank Indonesia melihat ruang untuk menurunkan suku bunga lebih lanjut dan mempertahankan kebijakan moneter yang akomodatif hingga 2021. 




Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga sebesar 100 basis poin tahun ini, dan mempertahankan suku bunga dalam tiga pertemuan terakhirnya.




Presiden Joko Widodo telah memerintahkan para menteri pemerintah untuk mempercepat pengeluaran anggaran untuk sisa tahun ini, dan mulai merencanakan pengadaan proyek untuk mempercepat pengeluaran pada awal 2021.




Jokowi baru-baru ini menandatangani undang-undang kontroversial Omnibus Law Cipta Kerja yang bertujuan untuk menarik investasi dan menciptakan lapangan kerja, tetapi serikat buruh menantang UU tersebut di Mahkamah Konstitusi.




“Para pembuat kebijakan Indonesia berhak mendapatkan penghargaan karena menggunakan perangkat yang luas untuk memerangi pandemi dan memberikan dukungan bagi perekonomian. Namun, kendala eksternal menunjukkan bahwa prospek ekonomi Indonesia tetap bergantung pada faktor-faktor di luar kendalinya,” Joseph Incalcaterra, kepala ekonom ASEAN HSBC Holdings Plc, menulis dalam catatan penelitian, dikutip Bloomberg.




“Inilah sebabnya mengapa implementasi yang cepat dan tegas dari investasi penting, dan reformasi ketenagakerjaan Indonesia sangat penting.”




TINGKAT PENGANGGURAN INDONESIA PECAHKAN REKOR 9 TAHUN DI TENGAH RESESI




Tingkat pengangguran Indonesia melonjak ke level tertinggi sejak 2011, seiring pandemi menyebabkan 29 juta orang kehilangan pekerjaan atau pindah ke pekerjaan paruh waktu.




Tingkat pengangguran naik menjadi 7,07% pada Agustus, dari 5,23% tahun lalu, dan menandai level tertinggi sejak 7,48% yang terlihat pada 2011, menurut Badan Pusat Statistik.




Jumlah orang tanpa pekerjaan bertambah lebih dari sepertiga menjadi 9,8 juta, seiring pandemi mendorong ekonomi terbesar di Asia Tenggara ini ke dalam resesi teknis pertamanya dalam dua dekade.




Secara keseluruhan, pandemi telah memengaruhi 29 juta orang Indonesia, atau hampir 15% dari angkatan kerjanya. 




Selain mereka yang kehilangan pekerjaan, sekitar 9,5 juta orang kehilangan pekerjaan penuh waktu, sementara mereka yang bekerja kurang dari 35 jam seminggu meningkat menjadi 9,2 juta, dinukil dari Bloomberg.




Pemerintahan Presiden Joko Widodo telah mempercepat pengesahan omnibus law yang melonggarkan aturan ketenagakerjaan dan memangkas birokrasi dalam upaya mendorong penciptaan lapangan kerja dan posisi ekonomi untuk perubahan haluan pada 2021.




Walau langkah tersebut telah disambut baik oleh kelompok bisnis, namun para pekerja dan aktivis terus memprotesnya dengan mengatakan perubahan itu akan mengikis hak-hak buruh.