Sindir Rezim Jokowi, Refly Harun Berharap Semoga Tidak Menjadi Negara Otoriter - SWARAKYAT NEWS

Sindir Rezim Jokowi, Refly Harun Berharap Semoga Tidak Menjadi Negara Otoriter

Sindir Rezim Jokowi, Refly Harun Berharap Semoga Tidak Menjadi Negara Otoriter



SWARAKYAT.COM -  Pakar Hukum Tata Negara Refly Harun menanggapi pernyataan pentolan Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) Din Syamsuddin soal kerusakan Indonesia.



Kata Refly Harun di akun channel Youtubenya, kritik Din Syamsudin memang luar biasa. 




Refly pun meminta rezim penguasa saat ini tak perlu risau dengan kritikan mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah tersebut.




"Dalam alam demokrasi, kritik harus dianggap sebagai kritik walaupun keras dan berkali-kali saya katakan, tidak perlu risau dengan kritik," kata Refly Harun, yang dikutip AKURAT.CO, Minggu (1/11/2020).




Menurutnya, hanya orang yang punya agenda tersembunyi melindungi kepentingan buruknya dengan menjauhi kritik. 




Akan tetapi, kalau semua pemimpin bekerja dan berbuat bagi masyarakat tidak perlu khawatir dengan kritik sekeras apapun.




"Bahkan tidak akan tertarik menggunakan rezim koersif kekuasaan, seperti untuk membungkam kritik dengan cara memenjarakan mereka yang kritis terhadap pemerintahan," katanya.




Ia pun berharap negara Indonesia bukan menjadi negara yang buruk, tapi negara bersama, tempat hidup sejahtera lahir dan batin, tempat dicerdaskan, dan tempat dilindungi oleh negara.




"Bukan negara seperti mimpi buruk di gelap malam. Kita berharap siapapun yang memerintah negara ini, siapapun yang terpilih dalam kontestasi politik, mereka memegang amanah sekuat-kuatnya, amanah untuk mempertahankan demokrasi konstitusional untuk mewujudkan tujuan negara untuk terus menjunjung dasar negara Pancasila," katanya.



Selain itu, dirinya juga berharap bahwa negara ini tidak menjadi negara yang otoriter. 




Menurutnya, masyarakat sudah berpuluh-puluh tahun belajar bagaimana tidak enaknya hidup dalam alam otoritarianisme, baik di era orde lama maupun era orde baru.




"Mungkin beberapa bagian dari pemerintahan orde lama dan orde baru dianggap baik, misalnya soal pembangunan ekonomi di era orde baru. Tapi jangan lupa kebebasan masyarakat sangat terbelenggu tidak ada keberanian bagi kita untuk berbicara," ucapnya




Kilas balik, Refly Harun mengatakan jika pada era reformasi masyarakat bebas berbicara. 




"Ada yang mengatakan kebablasan, saya mengatakan tidak kalau kita baru belajar berdemokrasi, mungkin baru belajar juga berdemonstrasi sehingga semuanya belum tepat ukurannya," katanya.




Namun, berbeda dengan era saat ini, ada kecenderungan masyarakat regresif tentang kebebasan berpendapat. 




Melihat data dari survei indikator, kata dia, antara yang setuju dan sangat setuju mulai takut dalam mengeluarkan pendapat itu angkanya 68,8 persen.




"Itu angka yang sangat-sangat besar, harusnya pemerintah atau penguasa memiliki kesadaran ini, itu yang harus diselamatkan."




Sebelumnya, Din Syamsuddin menyebut ada tiga kerusakan di Indonesia. 




Kerusakan itu berasal dari para pemimpin yang tindakannya menyimpang dari kiblat bangsa dan negara Indonesia.




Kerusakan pertama, adalah terjadinya penyelewengan, serta penyimpangan nilai-nilai dasar yang disepakati, yaitu Indonesia merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.




Kedua, gejala negara yang mengarah pada constitutional dictatorship atau kediktatoran konstitusional. 




Ia juga mengatakan Indonesia kini perlahan berubah menjadi negara otokrasi, meninggalkan azas demokrasi yang selama in dianut Indonesia.




Ketiga, arogansi oleh para pemimpin yang memiliki kekuasaan. Menurut Din, kesombongan yang dianut para pemimpin bangsa kini menjadi hambatan terpenuhinya aspirasi rakyat.