Polisi Ungkap Dana Teroris di Indonesia Bisa 'Sekolah' ke Suriah - SWARAKYAT NEWS

Polisi Ungkap Dana Teroris di Indonesia Bisa 'Sekolah' ke Suriah

Polisi Ungkap Dana Teroris di Indonesia Bisa 'Sekolah' ke Suriah



SWARAKYAT.COM -  Polri mengungkap sumber dana bagaimana teroris Jamaah Islamiyah (JI) di Indonesia bisa banyak belajar hingga terbang ke Suriah.




Dan informasi polisi tersebut sangat mengejutkan, di mana sumber dana yang didapat teroris ternyata dari kotak amal yang ada di minimarket.




Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Awi Setiyono mengatakan, informasi itu diperoleh dari hasil pemeriksaan mendalam yang dilakukan pihak kepolisian terhadap 24 anggota Jamaah Islamiyah yang ditangkap selama periode Oktober-November 2020.




"Penyalahgunaan fungsi dana kotak amal yang kami temukan terletak di minimarket yang ada di beberapa wilayah di Indonesia," ujar Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Awi Setiyono, Selasa, 1 Desember 2020.




Tim Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri menangkap 24 anggota JI dalam kurun waktu Oktober-November 2020.




Sebagian yang ditangkap merupakan para petinggi JI. Lokasi penangkapan di antaranya di Jawa Tengah (4 orang), Jawa Barat (2 orang), Banten (1 orang), Jabodetabek (8 orang), Yogyakarta (1 orang), dan Lampung (8 orang).




Dana tersebut diperuntukkan untuk menerbangkan para teroris ke Suriah dalam rangka pelatihan militer dan taktik teror.




Dana itu juga digunakan untuk membeli senjata dan bahan peledak yang akan digunakan untuk melakukan aksi amaliyah atau jihad.




"Kemudian untuk menggaji para pemimpin markaziyah JI," ucapnya.




Diberitakan sebelumnya, seorang pria terduga teroris berinisial AD (41) ditangkap Tim Detasemen khusus 88 di Komplek Perumnas Talang Kelapa Kecamatan Alang-Alang Lebar Kota Palembang pada Senin, 30 November 2020 malam.




Diduga teroris ini merupakan jaringan Jamaah Islamiyah.




"Benar. Kita (Polda Sumsel) back up saja. Sekarang sudah dibawa ke Jakarta ya,” kata Kapolda Sumsel Irjen Pol Eko Hendri.




Selain itu, digunakan juga untuk membeli senjata dan bahan peledak yang akan digunakan untuk melakukan aksi amaliyah atau jihad. 




“Kemudian untuk menggaji para pemimpin markaziyah JI," kata Awi.