Staf Kedubes Jerman Disebut Agen Intelijen, Munarman: Internasional Sudah Tau Fakta Sesungguhnya - SWARAKYAT NEWS

Staf Kedubes Jerman Disebut Agen Intelijen, Munarman: Internasional Sudah Tau Fakta Sesungguhnya

Staf Kedubes Jerman Disebut Agen Intelijen, Munarman: Internasional Sudah Tau Fakta Sesungguhnya



SWARAKYAT.COM - Hingga saat ini proses penyelidikan oleh Komnas HAM atas tewasnya 6 anggota FPI yang ditembak oleh polisi masih terus berlanjut.

 

Soal kedatangan orang dari Kedubes Jerman ke Markaz FPI Petamburan pun makin terungkap.

 

Anggota Komisi I DPR, Muhammad Farhan, mendapat informasi bahwa WNA Jerman yang mengunjungi markas FPI ternyata seorang pegawai intelijen Jerman.

 

Farhan menyatakan staf tersebut bernama Suzanne Hol.

 

Politikus Partai NasDem itu mengaku mendapat informasi tersebut dari sumber pribadi. Ia pun mempersilakan publik mencari informasi terkait staf Kedubes Jerman itu ke pihak imigrasi dan Kedubes Jerman.

 

"Ternyata dia bukan diplomat, namanya Suzanne Hol, dan setelah diselidiki lewat beberapa sumber, dia ternyata bukan sebagai pegawai di Kementerian Luar Negeri Jerman. Tetapi ternyata dia adalah tercatat sebagai pegawai Badan Intelijen Jerman, BND (Bundesnachrichtendienst)," kata Farhan saat dihubungi, Senin (28/12).

 

Menanggapi hal itu, Munarman Sekretaris Umum DPP FPI (Sebelum FPI dibubarkan dan menjadi Front Persatuan Islam) mengatakan, jika memang staf kedubes Jerman tersebut mata-mata, maka makin menegaskan kasus penembakan 6 laskar FPI sudah jadi perhatian dunia intelijen skala internasional.

 

"Hal itu artinya dalam kacamata dunia internasional, kasus pembantaian 6 anggota FPI tersebut adalah skandal dalam dunia intelijen. Karena dunia internasional mencium ada yang tidak beres dari sudut pandang dan kacamata intelijen," kata Munarman, Selasa (29/12/2020).

 

Jika benar staf Kedubes Jerman itu ternyata pegawai intelijen Jerman, Munarman menyebut penembakan 6 anggota laskar FPI bisa berdampak terhadap standar HAM di Indonesia. Munarman berbicara soal perspektif dunia intelijen soal aparat negara.

 

"Artinya itu bukan sekadar masalah politik. Ada yang lebih serius dan bisa berdampak pada reputasi atas standar hak asasi manusia yang rendah terhadap Indonesia dan akan menjadi perbincangan di dunia intelijen internasional. Sebab, dalam perspektif dunia intelijen, ada fatsoen, keberadaan aparat keamanan negara adalah untuk menangkal bahaya terhadap negara, bukan untuk membunuh warga negara sendiri," sebut Munarman.

 

Bagi Munarman, dunia tahu apa yang terjadi atas kasus penembakan 6 laskar FPI ini. Karena itu, katanya, yang dikirim bukan diplomat politik.

 

"Ini justru membuktikan bahwa dunia internasional sesungguhnya sudah tahu kejadian sesungguhnya. Oleh karenanya yang diturunkan adalah orang yang punya kemampuan investigasi, bukan diplomat politik untuk mencampuri urusan dalam negeri Indonesia," sebut Munarman.