Sakit Hati Dibohongi, Alasan Mega dan SBY Tak Pernah Akur - SWARAKYAT NEWS

Sakit Hati Dibohongi, Alasan Mega dan SBY Tak Pernah Akur

Sakit Hati Dibohongi, Alasan Mega dan SBY Tak Pernah Akur



SWARAKYAT.COM - Dua mantan presiden RI Megawati Soekarnoputri (Mega) dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dikenal publik tak memiliki hubungan harmonis. Oleh publik, Mega terkesan selalu menghindar dari SBY dalam berbagai kesempatan atau acara kenegaraan.

 

Publik tentu ada yang masih penasaran, kenapa keduanya punya hubungan renggang? Retaknya hubungan Megawati dan SBY ini terjadi sejak tahun 2004, saat itu SBY maju dalam Pilpres dan kemudian menang.

 

Meski tak pernah diungkapkan secara terbuka cerita Megawati kesal terhadap SBY, namun sudah menjadi rahasia umum. Penyebab utamanya adalah dia merasa dibohongi SBY.

 

Seperti dikutip Hops.id, fakta ini ditulis oleh wartawan senior Derek Manangka, dalam buku Jurus dan Manuver Taufik Kiemas –Memang Lidah Tak Bertulang.

 

Derek menceritakan kalau penyebab utama penyebab Megawati tak mau bertemu SBY karena merasa dibohongi.

 

SBY bohongi Mega diungkap Marzuki Alie

 

Sikap SBY membohongi Mega tersebut setidaknya juga diamini oleh mantan Sekjen Partai Demokrat Marzuki Alie. Hal itu dia ungkap saat menjadi narasumber di sebuah diskusi dengan Akbar Faizal di saluran Youtube.

 

Kata Alie, SBY ketika itu ingin melakukan taktik yang membuat Megawati kalah dua kali.

 

“Setelah lolos dalam Pemilu Legislatif, dapat 7 koma sekian persen itu saya ketemu SBY, empat mata. Lalu dia menyampaikan, Pak Alie saya akan berpasangan dengan Pak JK. Ini Ibu Mega akan kecolongan dua kali ini,” katanya.

 

“Kecolongan pertama dia yang pindah, kecolongan kedua dia yang ambil Pak JK. Itu kalimatnya,” kata dia lagi.

 

Semasa kepemimpinan KH Abdurahman Wahid atau Gus Dur, SBY memang pernah diangkat olehnya sebagai Menteri Pertambangan. Namun akhirnya diganti.

 

Di masa kepemimpinan Mega, SBY kembali dipercaya sebagai Menteri Koordinator Politik dan Keamanan. Mengakhiri masa jabatannya sebagai Presiden, Megawati kemudian memutuskan untuk maju kembali dalam Pilpres 2004.

 

Megawati ketika itu sempat mengajak SBY sebagai pasangannya menjadi Cawapres. Tapi SBY menolak, sambil menyampaikan ucapan terima kasih.

 

SBY beralasan, dia cukup ingin menjadi anggota kabinet menteri saja. Di saat yang hampir bersamaan, Jenderal (purn) AM Hendropriyono selaku Kepala BIN memberi laporan, bahwa ada tanda-tanda SBY sedang membangun partai baru.

 

Partai ini akan dijadikan sebagai kendaraan politik dalam Pilpres 2004. Mega saat itu kemudian memanggil SBY, dan menanyakan langsung atas laporan tersebut. Tapi SBY membantah.

 

Nyatanya SBY memang maju mewakili Partai Demokrat, partai yang baru didirikannya. Kala itu, Mega lebih menghargai Yusril Ihza Mahendra. Mega juga sempat mengajak Yusril sebagai pasangan cawapres, dan Yusril menjawab tidak bersedia.

 

Sambil minta maaf Yusril ketika itu mengaku mau menantang Mega sebagai calon presiden.